Kopi Muantab

sebuah blog tentang ke(tidak)warasan A. Masaswasana Soer

Antara Hippies, Samin, dan Sufi

00.35 by A. Masaswasana Soer


Banyak orang cenderung menceburkan dirinya dalam dinamika pergantian ikon di masyarakat. Mereka cenderung menyebut diri mereka sebagai kaum yang trendy dan modis. Dalam perjalanan hidup mereka, selalu terjadi pergantian tren – entah tren berbusana, musik, pola makan, hingga pola kepercayaan – yang mempengaruhi mereka. Namanya juga makhluk sosial, manusia cenderung mengikuti apa yang menjadi panutan umum agar diterima dalam masyarakat. Siapa yang tidak mencebur arus, akan dikucilkan dan dianggap out of date, nggak gaul.

Dalam populasi yang demikian, individualitas sebagai panduan diri pribadi akan lebur dalam identitas komunal. Singkat kata, identitas diri akan hilang bila tidak sesuai dengan norma umum. Fenomena yang paling lazim ditemui di seluruh penjuru dunia adalah fenomena ‘orang-orang gila’ yang dianggap mengganggu ketertiban umum plus merusak keindahan pemandangan.

Di lain belahan dunia, orang-orang yang melakukan protes terhadap cara hidup ini mencoba keluar dari komunitasnya dengan dua cara.

Yang pertama, berkumpul menyatukan identitas dalam satu panji golongan pemberontak. Fenomena ini terjadi di ranah Amerika pada kelompok yang disebut Hippies sebagai bentuk protes anti kemapanan dan penindasan antarkelas. Di Indonesia muncul golongan Sedulur Sikep yang sering disebut sebagai orang Samin (dari nama peletak dasar ajarannya, yaitu Samin Soerontiko) mencoba eksis dalam kehidupan anti feodalisme dan anti kolonialisme barat. Dalam prakteknya, mereka enggan menggunakan bahasa Jawa krama dan memilih menggunakan bahasa Jawa ngoko yang tidak mengenal hierarki sosial dan tidak berkesan feodalistis.

Cara yang kedua, adalah dengan menjalani hidup secara individual dalam keterasingan demi menemukan jalan hidup ideal dan kebenaran sejati (bukan kebenaran masyarakat yang disepakati secara komunal, pactum subjectionis). Di ranah Asia Barat, orang-orang semacam ini dilabeli sebagai orang Sufi yang artinya: kulit kambing. Nama ini diasosiasikan pada cara berpakaian mereka yang cenderung menghindari bahan-bahan mewah, dan berpakaian ala kadarnya dari kulit binatang buruan. Dalam hal kepercayaan, banyak sufi yang mengalami proses inkuisisi karena ‘kesesatan’ mereka dalam kepercayaan. Yang terkenal adalah Al-Hallaj yang mempelopori ajaran wahdatul wujud (Jawa: manunggaling kawula gusti), lalu dihukum mati.

Meskipun menempuh dua macam cara, namun kedua jenis gerakan tersebut mempunyai kesamaan-kesamaan. Sebagai protes terhadap norma umum, kedua gerakan tersebut mengupayakan norma tersendiri yang dianggap nyeleneh. Sebagai contoh, ketika seorang Samin ditanyai: Islamkah agamamu, maka ia akan menjawab: agamaku adalah agama Adam (mengacu pada Adam, nama biblikal manusia pertama di dunia).

Karena memiliki pandangan hidup sendiri, maka orang lain akan memberikan prasangka negatif terhadap golongan di atas. Di Jawa, kata samin sendiri identik dengan makna lugu, selengekan, atau bodoh luar biasa. Sementara itu di dunia Barat, kata hippies akan identik dengan pemadatan, penggunaan bahan-bahan ekstase seperti ganja. Hal ini meskipun sebenarnya pandangan hidup mereka sendiri jauh lebih luas daripada sekadar kebebalan maupun daun ganja. Dalam kegiatan nyata, mereka memiliki kesamaan pandangan dan jalan hidup, yaitu hidup berdasarkan kearifan alam. Negatifkah?

Lepas dari itu semua, kaum Hippies, Samin, para Sufi, dan sejenisnya mengajarkan untuk percaya pada kemampuan sendiri untuk mampu berpijak pada kaki sendiri. Alam tentunya akan dengan bahagia menerima jasad mereka untuk selanjutnya diurai kembali dalam siklusnya yang luar biasa. Luar biasa. Di satu sisi mereka terbuang, di satu sisi mereka dirindukan. Inilah yang terbuang dan dirindukan, inilah filosofi keseimbangan!

He... he... he...

He... he...

He?

(suara tawa aneh ala kuda nyengir ini pun bergema ke seluruh semesta raya, mengacaukan keseimbangan siklus alam... haaalah?!?)


Label: