Kopi Muantab

sebuah blog tentang ke(tidak)warasan A. Masaswasana Soer

Tentang UN 2008

23.04 by A. Masaswasana Soer

Salam hoha-hoha!

Delapan hari lagi, 14 Juni 2008, seluruh SMA, MA, atawa highschool lain di Nusantara bakal mengumumken kelulusan atawa ketidaklulusan daripada para abu-abuers termasuk aku juga. Ya, pasti banyak yang ketar-ketir, mengingat standar nilai minimum kelulusan tahun ini naik jadi 5,25 (walaupun kualitas pendidikannya nggak naik-naik, anggaran pemerintah untuk pendidikan juga masih saja di bawah 20% APBN).

Banyak sobatku mengeluh, soal yang keluar di ujian nasional beda jauh dengan yang diprediksikan jauh-jauh hari. Aku sendiri selaku anak IPA, juga menemukan hal itu di soal Fisika yang (mungkin) Pak Mendiknas Bambang Sudibyo (BS) tak akan sanggup mengerjakan. Muncul pula adegan sinetron di mana guru Fisikaku tertunduk lesu begitu melihat soal UN yang sedemikian “mudahnya” itu. Wajahnya berubah pucat seperti kekurangan vitamin B kompleks, dengan gejala lemah, letih, lesu, lunglai, dan letoy. Anak IPS juga keder begitu melihat keadaan soal UN Geografi yang sudah sedemikian berbeda dengan saat terakhir mereka bersua dengannya. Bahkan teman seangkatanku langsung kawin setelah UN selesai untuk berjaga-jaga biar tidak kurang kerjaan bila ternyata tidak lulus. Begitu dramatisnya sehingga para murid juga sudah membuat persiapan yang begitu cermatnya, termasuk persiapan kawin itu tentunya.

Waduh, rasanya tak sabar menunggu delapan hari lagi. Lulus atau tidak? Padahal, aku sudah diterima di dua perguruan tinggi negeri setelah bantingtulang ikut ujian mandiri di Semarang dan Yogyakarta. Malulah aku kalau sampai tidak lulus! Sia-sialah usahaku membentuk panitia konspirasi pencurangan ujian nasional, kalau tidak lulus. Padahal sih, kalau tidak lulus pun, bumi mungkin belum akan meledak.

Coba saja Pak BS ikut ujian nasional mata pelajaran Fisika dan Geografi? Aku tak tahu apa hasilnya nanti. Ya sudahlah, pokoknya kalau (kemungkinan terburuk) aku tidak lulus, kudoakan Pak BS kena skandal korupsi dana pendidikan. Biar ngerti beban mental teman-temanku hingga sampai berkali-kali berdoa, bermujahadahan (padahal tanpa berdoa pun gusti Allah jelas sudah tahu keinginan mereka, ‘kan gusti Allah Mahatahu?).

Yo wis lah... Akhirulkalam, salam hoha-hoha!

NB.: Mencoba optimis, karena aku belum pengen kawin saat ini...

Wonosobo, 6 Juni 2008

Label: